Lenteranusantara.co.id, Maluku Barat Daya – Jemaat GPM Poliwu resmi menahbiskan Gedung Gereja Proxenos dan Pastori Jemaat GPM Poliwu dalam sebuah ibadah penuh hikmat yang menjadi momentum penting perjalanan pelayanan dan pertumbuhan iman jemaat.
Prosesi penahbisan diawali dengan pengarahan peralatan liturgis dari gedung gereja lama menuju gedung gereja yang baru. Prosesi tersebut diiringi lagu Pikul Salib dan diikuti para pendeta se-Klasis Leti Moa Lakor, Majelis Pekerja Klasis, serta Majelis Jemaat yang kemudian memasuki pelataran gedung gereja untuk melaksanakan prosesi pentahbisan.
Berita acara serah terima Gedung Gereja Proxenos dan Pastori dibacakan oleh Sekretaris Klasis, Pendeta R. Hitipeuw.
Selanjutnya dilakukan penyerahan gedung gereja dan pastori dari panitia pembangunan kepada Ketua MPH Sinode GPM, Pendeta Sakarias I. Sapulette, M.Si., untuk ditahbiskan dan digunakan dalam pelayanan jemaat.
Gedung gereja tersebut berdiri di atas tanah seluas 64 meter persegi dengan luas bangunan 24 meter persegi. Sementara Pastori Jemaat GPM Poliwu berukuran 12 x 9 meter.
Prosesi penyerahan kunci berlangsung secara simbolis, dari tukang kepada Ketua Panitia, kemudian dari Ketua Panitia kepada Ketua MPH Sinode GPM. dilanjutkan dengan penekanan sirine sebagai tanda dibukanya papan nama gereja Proxenos oleh Wakil Bupati MBD, Agustinus L. Kilikily dan pengguntingan pita Pintu Gereja dilakukan oleh Ibu Ellen Bebena. Setelah prosesi tersebut, gedung gereja kemudian ditahbiskan dan dilanjutkan dengan ibadah perdana.
Perjalanan pembangunan Gedung Gereja Proxenos dan Pastori Jemaat GPM Poliwu bukanlah proses singkat. Panitia pembangunan telah dibentuk sejak 2010, ketika jumlah kepala keluarga jemaat masih sekitar 15 KK. Kini jumlah tersebut telah berkembang menjadi 44 KK.
Sementara peletakan batu penjuru pembangunan pastori dilakukan pada 2014.
Dalam perjalanan selama 16 tahun, jemaat bersama para pelayan terus berjuang mengumpulkan sumber daya dan mengerjakan pembangunan hingga akhirnya gedung gereja dan pastori dapat diselesaikan.
“Total biaya pembangunan mencapai Rp886.748.000,” lapor panitia pembangunan.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pertumbuhan jemaat tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah warga, tetapi juga dari kesetiaan, kerja bersama dan tanggung jawab dalam membangun kehidupan persekutuan.
Dalam khotbah berdasarkan Injil Lukas 16:1-13, Ketua MPH Sinode GPM mengajak jemaat agar tidak berhenti pada sukacita peresmian gedung semata.
Menurutnya, setelah sebuah gedung gereja selesai dibangun, pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang akan dilakukan jemaat dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan.
Perumpamaan tentang bendahara yang menghadapi krisis menjadi bahan refleksi bagi jemaat. Bendahara tersebut berada dalam ancaman kehilangan pekerjaannya, namun ia tidak hanya menunggu keadaan. Ia mengambil tindakan menghadapi situasi yang dihadapinya.
Yesus kemudian menyoroti kecerdikan bendahara tersebut. Hal itu menjadi pelajaran bagi umat percaya untuk berani bertindak dan memperjuangkan apa yang baik.
“Penting bagi kita untuk memperjuangkan apa yang baik harus kita lakukan,” menjadi pesan utama dalam refleksi tersebut.
Pembangunan Gereja Proxenos, lanjutnya, merupakan bukti perjuangan para pelayan dan seluruh umat selama 16 tahun.
Kesetiaan jemaat Poliwu dalam melewati proses panjang tersebut menjadi bukti bahwa ketika umat tidak hanya menunggu bantuan, tetapi bekerja dan berjuang bersama, sebuah pekerjaan besar dapat diwujudkan.
Karena itu, jemaat diajak untuk terus berpikir dan berjuang dalam kesetiaan kepada Tuhan.
Pesan pertama adalah tetap berjuang.
Pesan kedua adalah mengacu pada Lukas 16, disampaikan bahwa orang yang setia dalam perkara kecil akan setia juga dalam perkara besar. Karena itu, kejujuran tidak hanya diperlukan ketika mengelola perkara besar, tetapi harus dimulai dari perkara-perkara kecil.
Setiap rupiah yang dipercayakan harus dikelola dengan jujur dan bertanggung jawab.
“Biarlah jemaat ini dikenal bukan hanya karena gedungnya yang megah, tetapi juga karena pengelolaan keuangan yang baik, jujur dan memiliki integritas,” demikian pesan yang disampaikan.
Pesan ketiga, gedung gereja dan pastori merupakan milik Tuhan yang dipercayakan kepada jemaat untuk dikelola. Keduanya bukan milik perorangan ataupun kelompok tertentu. Karena itu, setiap bentuk pengelolaan harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Pesan tersebut ditutup dengan penegasan bahwa setiap orang percaya harus memilih untuk mengabdi kepada Allah. Pengabdian itu diwujudkan melalui kerja yang tekun, jujur dan bertanggung jawab di mana pun berada.
Ketua MPH Sinode GPM juga menegaskan bahwa keberadaan gedung gereja dan pastori harus menjadi tanda pertumbuhan iman yang hidup di Jemaat Poliwu.
Jemaat diajak untuk semakin rajin beribadah dan membangun relasi oikoumene sehingga kehidupan gereja benar-benar menjadi perwujudan tubuh Kristus.
Menurutnya, pembangunan gereja tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik.
Gereja juga memiliki tanggung jawab untuk membangun umat, memberdayakan masyarakat, memberikan perhatian terhadap pendidikan, menciptakan lingkungan yang sehat melalui sanitasi yang baik serta mendorong pertumbuhan ekonomi jemaat.
Pastori yang telah dibangun juga diharapkan menjadi inspirasi bagi jemaat untuk terus berupaya membangun rumah-rumah warga agar semakin layak dan sehat untuk dihuni.
Prosesi pengguntingan pita di pintu pastori dilakukan oleh Ibu Weruhair. A.A. Petrusz dan pembukaan pintu dilakukan Ketua MPH Sinode dan Ketua Majelis Jemaat Poliwu.
Ibadah penahbisan kemudian ditutup dengan lantunan pujian yang penuh hikmat. Lagu yang dikidungkan Paduan Suara Jemaat GPM Poliwu tersebut menggambarkan perjalanan panjang dan pergumulan Jemaat Poliwu selama proses pembangunan gereja dan pastori.
Liriknya menggambarkan keyakinan bahwa seluruh pekerjaan yang telah dilakukan tidak terlepas dari pertolongan dan rencana Tuhan. “Katong ni sapa sampe Tuhan mau pake fot Tuhan pung karja. ini samua Tuhan pung rencana, katong cuma minta Tuhan Yesus jalan sama-sama. katong janji mau biking Tuhan Yesus pung karja”.
Pesan yang mengemuka dalam pujian tersebut adalah tekad jemaat untuk terus bekerja bagi Tuhan, sembari memohon agar Yesus Kristus senantiasa berjalan bersama dan menyertai setiap pekerjaan pelayanan.
Usai ibadah, dilakukan prosesi penyerahan kunci gereja dan pastori dari Ketua MPH Sinode kepada Ketua Klasis GPM Leti Moa Lakor, Pendeta Daniel. Z. Wutwensa dan selanjutnya diberikan kepada Ketua Majelis Jemaat GPM Poliwu, Pendeta Lely Matekohy.
Sementara itu, dalam sambutan Bupati yang dibacakan Wakil Bupati, Agustinus L. Kilikily menyampaikan bahwa penahbisan Gereja Proxenos dan Pastori Jemaat GPM Poliwu merupakan momentum iman yang patut disyukuri.
Apresiasi disampaikan kepada seluruh jemaat yang telah berjuang selama bertahun-tahun hingga pembangunan dapat diselesaikan.
Dengan peresmian tersebut, jemaat dituntut untuk menjadikan gereja bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai tempat bertumbuhnya iman dan kehidupan persekutuan.
Pemerintah daerah, kata Bupati, menyadari bahwa pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan moral dan spiritual masyarakat.
Karena itu, kolaborasi dan sinergitas antara Pemerintah Daerah dan Sinode GPM perlu terus dipertahankan dalam membangun masyarakat.
“Mari isi gereja dengan ibadah yang hidup,” menjadi pesan yang disampaikan kepada seluruh jemaat.
Penahbisan Gereja Proxenos dan Pastori Jemaat GPM Poliwu akhirnya bukan sekadar seremoni peresmian sebuah bangunan, tetapi menjadi penanda perjalanan panjang jemaat—dari 15 KK menjadi 44 KK—serta kesetiaan umat dalam bekerja, berjuang dan mempertahankan kehidupan iman selama 16 tahun. (LN-01)










