Lenteranusantara.Co.Id, Ambon – Dua isu nasional masing-masing Gunung Botak di Kabupaten Buru dan Ground Breaking Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar telah dituntaskan perlahan-lahan Pemerintah Provinsi Maluku dengan dukungan aktif Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dodi Triwinarto dan jajarannya. “Gunung Botak sudah dinetralisir dan aparat TNI-AD sudah ditempatkan di sana. IUP sudah ditertibkan sehingga praktik-praktik ilegal sudah diminimalisasi,” ujar Dodi dalam silaturahmi Pandam Pattimura dengan insan pers Maluku di Ambon, Rabu (1/7/2026).
Selain itu, lanjut Dodi, persoalan lahan untuk ground breaking (peletakan batu pertama) proyek offshore Blok Masela di Tanimbar juga sudah diatasi dengan pemberian ganti rugi yang layak bagi masyarakat pemilik lahan. “Besok (Kamis, 2/7) saya akan terbang ke Jakarta, dan insyaallah proyek offshore ini akan dibuka oleh Presiden RI pak Prabowo Subianto. Awalnya ada yang usulkan Pak Bahlil Lahadalia, tapi saya tidak mau karena dari awal proyek ini diresmikan Presiden. Saya ingin menjadi perhatian luas kalau pemerintah kita sangat mendukung investasi di negara kita yang memang kaya akan sumber daya alam baik di darat maupun di laut,” papar Dodi. Lebih jauh Dodi mengaku prihatin kekayaan laut dan perikanan Maluku ternyata tak mampu menopang kesejahteraan masyarakat maupun mendukung pembangunan daerah ini. “Sumber daya ikan terbesar di Indonesia itu ada di Laut Arafura, tapi kenapa masyarakat Maluku belum sejahtera. Memang regulasi juga berdampak bagi pengelolaan sumberdaya daya laut dan perikanan, tapi kalau mau jujur ini juga terletak pada salah kelola,” ungkap Dodi. BENTUK SATGAS PERIKANAN. Untuk mengetahui dan mengatasi problematika persoalan pengelolaan sumber daya perikanan di Maluku, sebut Dodi, pihaknya telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) ke Kabupaten Kepulauan Aru. “Saya bentuk Satgas dan kirim prajurit yang bertugas menggali informasi dari masyarakat. Kita juga libatkan unsur TNI-AL dan Bakamla untuk sama-sama mencari solusi menangani pencurian ikan di Laut Arafura,” ujar Dodi.
PERKELAHIAN ANTARDESA MENURUN
Dodi menyebutkan selama ini Kota Ambon dikenal memiliki tingkat PAD (Perkelahian ANTARDESA/dusun) yang tinggi di Tanah Air, namun dengan pendekatan yang dilakukan dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait lainnya perlahan-lahan PADnya mulai menurun.
“Saya bersyukur sekalipun baru bertugas selama lebih dari dua bulan tapi tingkat PAD yang tadi-tadinya sangat tinggi berangsur-angsur ditekan dan sudah mulai menurun angkanya,” sebutnya.
MINTA KOLABORASI INSAN MEDIA
Pada bagian lain Dodi menegaskan baik tidaknya iklim investasi maupun stabilitas keamanan juga tergantung dukungan positif dan besar dari insan pers di daerah ini. “Maju atau tidaknya daerah ini sangat tergantung juga dari peran rekan-rekan media semua,” pungkasnya. (LN-04)















