Lenteranusantara.co.id, MBD – Penahbisan Gereja Irene Jemaat GPM Kiera menjadi momentum penting bagi warga jemaat untuk memperkuat persekutuan, pelayanan, serta panggilan gereja dalam menghadirkan perubahan di tengah masyarakat.
Arak-arakan dari gereja lama yang telah digunakan selama 57 tahun oleh Majelis Pekerja Klasis (MPK), para pendeta se-klasis Leti Moa Lakor dan Majelis Jemaat GPM Kiera membawa Alkitab dan alat sakramen diiringi terompet mengawali proses peresmian dan pentahbisan gereja baru Irene.
Sebelum memasuki gedung gereja baru Irene, dilakukan prosesi pembacaan dan penandatanganan Berita Acara Penyerahan Gedung, pembukaan selubung papan nama dengan penekanan tombol sirine oleh Wakil Bupati Maluku Barat Daya, Agustinus L. Kilikily dan pengguntingan pita oleh Ibu Ellen Kilikily diikuti penyerahan kunci dan pembukaan pintu oleh Kepala Tukang kepada Ketua Panitia Pembangunan dan selanjutnya diserahkan kepada Majelis Pekerja Harian Sinode GPM dilanjutkan dengan ibadah di dalam gedung gereja baru.
Dalam khotbahnya pada ibadah penahbisan tersebut, Pendeta Max Takaria mengangkat pesan dari pembacaan Alkitab Yeremia 22:1-9. Ia menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak mengenal kemustahilan dan berbagai tantangan yang sulit tidak boleh menghentikan gerak persekutuan sebagai tubuh Kristus.
Menurutnya, hadirnya gedung gereja baru bukan sekadar pencapaian pembangunan fisik, melainkan harus menjadi bukti penyertaan Tuhan sekaligus momentum untuk memahami kembali arti tugas dan misi gereja.
“Jangan sampai kita terjebak dalam pembangunan fisik saja. Gereja harus menjadi tempat terjadinya perubahan karakter, moral, dan kehidupan spiritual,” pesan Takaria dalam khotbahnya, Minggu (23/8).
Ia menjelaskan, pesan Yeremia 22:1-9 disampaikan dalam konteks ketika umat dan para pemimpin mengalami krisis moral. Yeremia menggambarkan kemegahan istana yang dibangun dengan kayu aras, yang menjadi simbol kemegahan. Namun, di balik kemegahan bangunan tersebut terdapat kekerasan, ketidakpedulian terhadap sesama, serta ketidakadilan terhadap rakyat kecil.
Karena itu, menurut Takaria, pesan utama firman Tuhan bukan hanya tentang kemegahan sebuah bangunan, tetapi mengenai perbaikan moral, perilaku, dan karakter untuk menghadirkan keadilan dan kebenaran.
“Gedung gereja adalah alat, bukan tujuan akhir. Gereja harus memperlihatkan sikap hidup yang memberikan hak kepada orang-orang yang tertindas,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemimpin harus hadir sebagai pelindung umat dan masyarakat. Gereja tidak boleh menjadi sekadar monumen, tetapi harus menjadi pusat pergerakan kasih dan kepedulian sosial.
Tanpa kasih dan keadilan sosial, lanjutnya, kemegahan gedung gereja tidak memiliki makna. Karena itu, warga jemaat diajak untuk mengokohkan kembali janji dengan Tuhan.
“Janji itu adalah panggilan, bukan pilihan,” katanya.
Takaria juga mengingatkan bahwa setelah gereja ditahbiskan, tugas warga jemaat bukan berhenti pada pembangunan gedung, tetapi merawat kasih dan menjadikan gereja sebagai pusat pelayanan bagi semua orang.
Menurutnya, kesenjangan dalam kasih dapat merusak persekutuan. Karena itu, Gereja Irene Jemaat GPM Kiera diharapkan menjadi gereja yang terbuka, peduli, dan menjadi pusat perubahan di tengah kehidupan jemaat maupun masyarakat.
GPM: Gedung Gereja Harus Memperkuat Persekutuan
Sementara itu, dalam sambutannya, Takaria yang juga Wakil Sekretaris Umum MPH Sinode GPM menekankan bahwa keberhasilan pembangunan Gereja Irene tidak terlepas dari kerelaan warga jemaat untuk memberi dan menggerakkan berbagai potensi yang dimiliki demi pekerjaan pembangunan gereja.
Ia mengatakan, salah satu keunikan Gereja Protestan Maluku (GPM) adalah gedung gereja dibangun oleh jemaat, tetapi menjadi bagian dari persekutuan GPM secara keseluruhan.
“GPM itu unik. Jemaat yang membangun, tetapi yang memiliki adalah Sinode GPM. Artinya, siapa saja warga GPM dari jemaat mana pun dapat masuk dan menggunakan gedung gereja ini,” ujarnya.
Menurutnya, peristiwa penahbisan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk meneguhkan persekutuan bersama Jemaat Kiera. Kebersamaan dan soliditas harus terus dijaga untuk memperkuat iman dan pelayanan kepada Tuhan.
Ia mengingatkan bahwa gereja akan menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi memecah belah kehidupan persekutuan. Karena itu, keutuhan gereja harus dimulai dari keluarga, unit, sektor, hingga kehidupan jemaat secara keseluruhan.
“Yang kita lakukan hari ini adalah sebuah akta bahwa Jemaat Kiera terus bertumbuh dalam iman. Jadi, bukan secara administratif saja, tetapi hakikat gereja yang sejati adalah persekutuan,” katanya.
Pemda MBD Dorong Gereja dan Pemerintah Bersinergi
Bupati Maluku Barat Daya dalam sambutan yang dibacakan Wakil Bupati, Agustinus Lekwarday Kilikily mengatakan, penahbisan Gereja Irene menjadi refleksi bersama untuk terus mengembangkan firman Tuhan di tengah kehidupan persekutuan.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten MBD menyadari pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan karakter dan penguatan kehidupan sosial serta persekutuan masyarakat.
“Pembangunan gereja menjadi kekuatan kekeluargaan di dalam jemaat, tetapi juga dengan semua pihak,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi dan sinergitas antara gereja, pemerintah, serta masyarakat terus dibangun dalam berbagai bidang pelayanan dan pembangunan.
Bupati juga mengajak seluruh warga jemaat untuk mengisi gedung gereja yang baru dengan kehidupan yang saling membantu, peduli, dan memperkuat kebersamaan.
“Atas nama Pemerintah Daerah, kami mengucapkan selamat atas penahbisan Gereja Irene Jemaat GPM Kiera. Selamat beribadah dan melayani Tuhan di gedung gereja yang baru,” pungkasnya.
Penahbisan Gereja Irene Jemaat GPM Kiera diharapkan tidak hanya menjadi penanda selesainya pembangunan sebuah gedung, tetapi menjadi awal baru bagi jemaat untuk semakin tekun memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat persekutuan, serta menghadirkan kasih dan keadilan sebagai wujud nyata kesaksian gereja di tengah kehidupan bersama.
Sementara itu, penyerahan kunci pintu gereja sebagai simbol penyerahan gedung gereja baru kepada Jemaat GPM Kiera dilakukan oleh Wakil Sekum MPH Sinode, Pendeta Max Takaria dan diterima Ketua Majelis Pekerja Klasis (MPK) Leti Moa Lakor, Pendeta Daniel Wutwenza dan selanjutnya diterima Ketua Majelis Jemaat GPM Kiera, Pendeta Arens Kilay. (LN-01)















