lenteranusantara.co.id, MBD — Setelah melalui proses pembangunan selama sekitar 11 tahun sejak peletakan batu penjuru pada 2015, Kantor Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Leti Moa Lakor (Lemola) akhirnya ditahbiskan pada Jumat, 25 September 2026.
Penahbisan dilakukan oleh Ketua Sinode GPM, Pdt. Sakarias Isak Sapulette, dalam ibadah yang dilayani Pdt. Ivon Tromlay. Hadir juga Bupati Maluku Barat Daya Benjamin Thomas Noach, Wakil Bupati, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, serta para Ketua Majelis Jemaat dan PHMJ se-Klasis Lemola.
Secara kelembagaan, momentum tersebut bukan sekadar peresmian sebuah gedung. Di balik berdirinya kantor tersebut terdapat perjalanan pembangunan yang berlangsung lebih dari satu dekade, termasuk proses penghimpunan dan penggunaan dana pembangunan yang dilaporkan mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Dalam laporan Ketua Panitia Penahbisan, Daud Reimialy, dijelaskan bahwa pembangunan Kantor Klasis Lemola diawali dengan peletakan batu penjuru pada 2015.
Rentang waktu sekitar 11 tahun menunjukkan bahwa pembangunan kantor tersebut bukan pekerjaan yang selesai dalam satu tahap. Pembangunan berlangsung melalui proses panjang hingga akhirnya gedung dapat digunakan sebagai pusat pelayanan Klasis Lemola.
Dalam konteks tata pelayanan GPM, klasis merupakan salah satu struktur penting yang menghubungkan pelayanan jemaat dengan tingkat sinode. Klasis Lemola sendiri merupakan salah satu wilayah pelayanan GPM yang memiliki 29 jemaat dan 43 pendeta pada data 2025.
Karena itu, keberadaan kantor klasis mempunyai fungsi yang lebih luas daripada sekadar bangunan administratif.
Laporan panitia pada momentum penahbisan tidak hanya menjadi catatan seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari rekam jejak perjalanan pembangunan Kantor Klasis Lemola sejak 2015.
Daud Reimialy melaporkan bahwa total dana yang digunakan untuk pembangunan kantor tersebut mencapai lebih dari Rp1 miliar. ”Setelah seluruh rangkaian pembangunan dilaksanakan, panitia melaporkan saldo tersisa hanya Rp2.000,” ungkapnya.
Serah Terima Kunci: Dari Panitia ke Sinode, Kemudian ke Klasis
Prosesi penahbisan ditandai dengan penyerahan kunci kantor dari panitia kepada Ketua Sinode GPM, Pdt. Sakarias Isak Sapulette. Setelah itu, kunci diserahkan oleh Ketua Sinode kepada Ketua Klasis GPM Leti Moa Lakor, Pdt. Daniel Zwingly Wutwensa.
Prosesi tersebut memiliki makna kelembagaan: pembangunan yang selama bertahun-tahun dikerjakan oleh panitia akhirnya diserahkan kepada struktur gereja untuk digunakan sebagai fasilitas pelayanan Klasis Lemola.
Dengan penyerahan tersebut, kantor baru tidak lagi hanya menjadi hasil pembangunan fisik, tetapi menjadi bagian dari infrastruktur pelayanan gereja di wilayah Leti, Moa dan Lakor.
Dalam arahannya, Ketua Sinode GPM Pdt. Sakarias Isak Sapulette menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama yang patut disyukuri.
Menurutnya, penahbisan kantor Klasis Lemola bukan sekadar meresmikan bangunan.
“Capaian ini adalah capaian bersama Tuhan. Karena itu patutlah kita bersyukur kepada Tuhan Allah.” tandasnya.
Sapulette juga melihat perjalanan pembangunan selama 11 tahun sebagai bukti penyertaan Tuhan sekaligus ketekunan umat dan para pelayan di Klasis Lemola.
Ia menegaskan bahwa pembangunan kantor tersebut bukan dimaksudkan untuk memperbanyak aset GPM, tetapi harus ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat.
Pesan tersebut menjadi penting karena ukuran keberhasilan kantor baru tidak berhenti pada megahnya bangunan, melainkan pada sejauh mana fasilitas tersebut menghasilkan perubahan dalam kehidupan jemaat dan masyarakat.
Sapulette mengharapkan kantor baru tersebut menjadi pusat pergerakan dan misi pelayanan, sekaligus pusat kajian dan pemetaan kebutuhan pelayanan.
”Kantor ini juga diharapkan menjadi pusat administrasi, koordinasi dan peningkatan pelayanan. Dengan fungsi tersebut, keberadaan kantor Klasis Lemola diharapkan mampu mendukung pelayanan yang tidak hanya bergerak pada bidang spiritual, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan kehidupan masyarakat,” harapnya.
Ia meminta para pelayan meningkatkan pelayanan dalam bidang ekonomi, pendidikan dan teknologi digital. Hal tersebut sejalan dengan tantangan pelayanan GPM di wilayah kepulauan dan daerah 3T. Dokumen perencanaan GPM mencatat Leti Moa Lakor termasuk wilayah pelayanan yang menghadapi tantangan akses komunikasi dengan kondisi yang beragam, sekaligus telah menggunakan teknologi komunikasi seperti smartphone dalam pelayanan.
Peringatan terhadap Ancaman El Nino
Dalam arahannya, Ketua Sinode juga mengingatkan agar dampak El Nino diantisipasi.
Ia mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan hemat air serta mempersiapkan lumbung pangan.
Pesan tersebut memperluas makna pelayanan gereja. Gereja tidak hanya berbicara mengenai kehidupan jemaat di dalam ruang ibadah, tetapi juga harus hadir menghadapi persoalan nyata yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.
”Bagi wilayah kepulauan seperti MBD, ketahanan air dan pangan merupakan isu yang langsung berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Kita berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Namun, harus menjadi perhatian bersama,” terangnya.
Sapulette berharap kantor baru tersebut turut memberikan dampak bagi pembangunan di Kabupaten Maluku Barat Daya.
Ia meminta ketekunan dan kesetiaan para pelayan terus ditingkatkan sehingga pelayanan gereja benar-benar menghasilkan buah dalam kehidupan jemaat.
Penahbisan kantor, menurut arahannya, harus menjadi momentum perubahan dan peningkatan pelayanan, bukan titik akhir dari sebuah proyek pembangunan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu pembangunan hingga kantor tersebut dapat ditahbiskan.
Bupati MBD: Gereja Mitra Strategis Pemerintah
Sementara itu, Bupati Maluku Barat Daya Benjamin Thomas Noach menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten MBD menyadari posisi gereja sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Menurut Bupati, pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut pembangunan spiritual masyarakat.
Karena itu, Pemkab MBD menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Sinode GPM serta seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perjalanan pembangunan Kantor Klasis Lemola.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hubungan pemerintah daerah dan lembaga keagamaan tidak semata berada pada ranah seremonial, tetapi juga menyentuh agenda pembangunan manusia.
Pertanyaan Besarnya: Apa yang Berubah Setelah Kantor Berdiri?
Penahbisan Kantor Klasis Lemola sekaligus membuka babak baru.
Selama 11 tahun, energi umat, pelayan dan berbagai pihak diarahkan untuk menghadirkan sebuah fasilitas pelayanan. Kini, tantangannya justru bergeser: apa dampak konkret kantor tersebut setelah resmi digunakan?
Pesan Ketua Sinode memberikan indikator yang cukup jelas: kantor harus menjadi pusat administrasi, pusat kajian dan pemetaan pelayanan, pusat pergerakan misi, serta ruang untuk memperkuat pelayanan ekonomi, pendidikan dan teknologi digital.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembangunan Kantor Klasis Lemola ke depan bukan hanya kondisi fisik bangunan atau nilai asetnya.
Ukuran yang lebih substantif adalah apakah kantor tersebut mampu mempercepat pelayanan kepada 28–29 jemaat, memperkuat koordinasi para pelayan, merespons persoalan sosial, membantu ketahanan ekonomi umat, memperkuat pendidikan dan memanfaatkan teknologi digital secara efektif. Data pelayanan GPM menunjukkan bahwa Lemola memang merupakan wilayah pelayanan dengan jumlah jemaat dan tenaga pendeta yang cukup signifikan.
Dengan penyerahan kunci dari panitia kepada Sinode dan selanjutnya kepada Ketua Klasis, maka tanggung jawab pembangunan secara fisik boleh dikatakan memasuki garis akhir.
Namun, tanggung jawab pelayanan justru baru dimulai.
Kantor yang dibangun sejak peletakan batu penjuru pada 2015 itu kini dituntut membuktikan bahwa lebih dari satu dekade perjuangan pembangunan tidak berhenti pada berdirinya sebuah gedung, tetapi berlanjut menjadi pusat pelayanan yang benar-benar memberi dampak bagi umat dan masyarakat di Leti, Moa dan Lakor. (LN-01)
















