Lenteranusantara.co.id, Ambon – Jalan santai yang direncanakan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Ambon tidak semata-mata dapat dilihat sebagai kegiatan olahraga bersama. Di balik agenda yang sederhana itu, terdapat pesan yang lebih besar: konsolidasi internal organisasi sekaligus menguji keseriusan kepengurusan baru dalam membenahi tata kelola olahraga di Kota Ambon.
Pengurus KONI Kota Ambon periode 2025–2029 resmi dikukuhkan pada 18 April 2026. Kepengurusan tersebut dipimpin Bodewin M. Wattimena dan sejak awal membawa sejumlah agenda, mulai dari penguatan organisasi, pembinaan atlet secara berjenjang, pengembangan infrastruktur hingga penyelenggaraan kompetisi olahraga secara rutin.
Karena itu, jalan santai yang melibatkan pengurus bukan sekadar persoalan bergerak bersama. Kebersamaan di lapangan harus berujung pada kerja organisasi di belakang meja.
Dari Jalan Santai ke Pembenahan Organisasi
KONI Kota Ambon sebelumnya menyatakan pentingnya pembenahan organisasi untuk menghadapi agenda olahraga berikutnya. Dalam kepengurusan baru, pembinaan atlet diarahkan secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan hingga persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON). Selain itu, setiap cabang olahraga didorong menyelenggarakan turnamen secara rutin.
Langkah tersebut menjadi penting karena Ambon memiliki posisi strategis dalam ekosistem olahraga Maluku. Ketua Umum KONI Provinsi Maluku M.A.S. Latuconsina bahkan menyebut Kota Ambon sebagai salah satu sumber utama atlet bagi Maluku.
Artinya, persoalan KONI Kota Ambon bukan hanya bagaimana menggelar kegiatan olahraga sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana memastikan kegiatan tersebut menghasilkan atlet, prestasi dan sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Tantangan Terbesar Justru Setelah Kegiatan Selesai
Pengalaman sejumlah turnamen olahraga di Ambon menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap kompetisi cukup besar. Pemerintah Kota Ambon sebelumnya juga menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan kompetisi olahraga secara rutin melalui cabang-cabang olahraga.
Namun, agenda kompetisi menghadirkan pertanyaan yang lebih substantif.
Ke mana atlet-atlet potensial setelah turnamen selesai?
Apakah mereka masuk dalam database KONI? Apakah ada program pemusatan latihan? Apakah ada mekanisme pemantauan prestasi? Dan yang paling penting, apakah atlet usia dini benar-benar mendapatkan jalur pembinaan hingga tingkat provinsi dan nasional?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar kegiatan olahraga tidak berhenti pada piala, sertifikat dan seremoni pembukaan maupun penutupan.
Jalan Santai dan Ujian Konsolidasi
Dalam konteks itu, jalan santai pengurus KONI dapat menjadi ruang informal untuk membangun komunikasi antarpengurus, cabang olahraga dan elemen pembinaan atlet.
Organisasi olahraga membutuhkan koordinasi yang kuat karena persoalan prestasi tidak hanya berada di tangan atlet. Ada pelatih, pengurus cabang olahraga, perangkat pertandingan, sarana latihan, pendanaan, sistem kompetisi hingga pembinaan usia dini yang harus berjalan dalam satu rantai.
KONI Kota Ambon sendiri menargetkan penguatan sinergi dengan pemerintah kota dan cabang olahraga. Dalam pelantikan pengurus periode 2025–2029, Bodewin menyebut empat arah kebijakan, yakni pengembangan infrastruktur olahraga, pembinaan atlet berjenjang, sinergi Pemkot dengan KONI serta penyelenggaraan turnamen yang inovatif dan rutin.
Jangan Sampai Berhenti di Foto Bersama
Di sinilah publik olahraga Ambon dapat melihat lebih jauh makna setiap kegiatan KONI.
Jalan santai boleh menjadi simbol kebersamaan. Turnamen boleh menjadi ruang kompetisi. Workshop boleh menjadi sarana peningkatan kapasitas.
Tetapi ukuran akhirnya tetap sama: apakah organisasi semakin tertata dan apakah prestasi atlet semakin meningkat?
Jika konsolidasi internal diikuti pembenahan administrasi cabang olahraga, sistem pembinaan yang jelas, kompetisi rutin dan pemetaan atlet berbakat, maka kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun ekosistem olahraga yang lebih terukur.
Sebaliknya, tanpa tindak lanjut, kegiatan seremonial berisiko hanya menjadi agenda sesaat yang ramai pada hari pelaksanaan, tetapi tidak meninggalkan sistem pembinaan setelahnya.
KONI Kota Ambon kini berada pada fase penting. Jalan santai bisa menjadi titik temu pengurus, tetapi pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah semua peserta kembali pulang. (LN-04)










