Superyacht Adastra Singgah di Moa, Anto Marden Menyambangi Kawasan Konservasi Penyu

banner 468x60

lenteranusantara.co.id, Moa — Pemandangan tak biasa terlihat di perairan Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Senin (21/9/2026). Sebuah superyacht futuristik berukuran puluhan meter muncul di depan dermaga Moa.

Kapal tersebut adalah Adastra, superyacht trimaran milik pengusaha pelayaran asal Hong Kong, Antony “Anto” Marden.

banner 970x250

Kedatangan Marden ke Pulau Moa tidak diawali pemberitahuan kepada pihak Syahbandar setempat. Karena itu, kapal tidak diizinkan untuk langsung sandar di dermaga. “Kami juga tidak diberitahu kedatangannya,” kata Engel, petugas Syahbandar Pulau Moa kepada lenteranusantara.co.id.

Adastra akhirnya memilih berlabuh di perairan depan dermaga. Marden kemudian turun dari kapal menggunakan speed boat yang menjemputnya dan dibawa menuju daratan.

Dari Dermaga di Kaiwatu, perjalanan Marden berlanjut menuju Syota, salah satu kawasan pesisir yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas konservasi World Wide Fund for Nature (WWF) di Pulau Moa, termasuk upaya menjaga habitat penyu.

Dari Kapal Mewah ke Pantai Konservasi

Kunjungan Marden ke Moa menarik perhatian bukan hanya karena ukuran dan kemewahan kapal yang digunakannya, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai pengusaha pelayaran sekaligus penggemar laut dan pulau-pulau kecil.

Sejumlah publikasi internasional menyebut Marden sebagai pengusaha pelayaran berbasis di Hong Kong. Ia dikenal memiliki ketertarikan kuat terhadap dunia pelayaran dan telah menjelajahi berbagai kawasan kepulauan di Asia, termasuk Indonesia.

Kecintaan tersebut bahkan telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak masa muda. Marden mulai mengenal dunia perahu sejak kecil dan kemudian mengembangkan ketertarikannya terhadap kapal multihull atau kapal dengan lebih dari satu lambung.

Adastra merupakan salah satu hasil terbesar dari ketertarikan tersebut. Superyacht ini memiliki panjang sekitar 42,5 meter, lebar sekitar 16 meter, dan menggunakan konfigurasi trimaran. Kapal dirancang oleh desainer yacht Inggris John Shuttleworth dan dibangun McConaghy Boats di Zhuhai, China.

Konstruksi Adastra menggunakan material ringan seperti karbon fiber dan struktur komposit. Desain tersebut bukan semata mengejar kemewahan, tetapi juga efisiensi dan kemampuan melakukan pelayaran jarak jauh.

Kapal ini dirancang dengan konsep yang mengutamakan ketahanan di laut terbuka, kenyamanan, efisiensi operasional dan draft yang relatif dangkal. Spesifikasi yang dipublikasikan John Shuttleworth Yacht Designs mencatat draft lambung sekitar 1,12 meter dan sistem penggerak yang terdiri dari mesin utama serta dua mesin pada bagian outrigger.

Adastra mampu membawa hingga sekitar sembilan tamu dan enam kru. Interiornya dilengkapi ruang saloon, area makan, kamar tamu, dapur dan ruang luar yang dirancang untuk menikmati perjalanan laut.

Desain interiornya juga melibatkan istri Marden, Elaine Marden, yang ikut menentukan berbagai elemen interior kapal.

Kapal Seharga Puluhan Juta Dolar

Nilai Adastra juga tidak kecil. Sejumlah publikasi pernah memperkirakan nilai kapal tersebut sekitar US$10 juta hingga US$15 juta, tergantung periode dan konteks penjualan yang diberitakan. Detik pada saat peluncuran pernah mengutip nilai sekitar Rp232 miliar, sementara Tatler Asia kemudian menyebut angka sekitar US$10 juta.

Marden sendiri juga dilaporkan memiliki kekayaan dalam skala ratusan juta dolar AS. Tatler Asia, misalnya, pernah menyebut estimasi kekayaan sekitar US$200 juta, tetapi angka tersebut merupakan estimasi media, bukan laporan kekayaan resmi.

Sumber kekayaannya terutama berkaitan dengan bisnis pelayaran. Marden dikenal sebagai pemilik Fenwick Shipping Services dan telah lama bergerak di industri pelayaran Asia.

Ia juga diketahui memiliki aset properti dan pulau pribadi di kawasan Indonesia. Dalam wawancara dengan Boat International, Marden menceritakan kepemilikannya atas Pulau Pangkil dan Pulau Joyo serta pengalamannya menjelajahi berbagai kepulauan di Indonesia.

Anto Marden dan Keluarga

Kehidupan Marden di dunia laut juga tidak berdiri sendiri. Ia bersama istrinya, Elaine, terlibat dalam perjalanan panjang pengembangan Adastra. Keduanya bahkan melakukan pelayaran perdana kapal tersebut melalui Indonesia, Singapura dan Filipina.

Pasangan ini memiliki tiga putri yang telah dewasa. Dalam wawancara Boat International, disebutkan bahwa ketiga putrinya menjalani kehidupan dan pekerjaan masing-masing di berbagai negara.

Marden juga memiliki sejarah panjang dengan kapal trimaran. Sebelum Adastra, ia memiliki Mazinga, kapal trimaran sekitar 13,7 meter yang juga dirancang John Shuttleworth.

Dengan demikian, Adastra bukan sekadar kapal pesiar bagi Marden. Kapal tersebut merupakan bagian dari obsesi panjangnya terhadap laut, teknologi kapal dan perjalanan menuju pulau-pulau terpencil.

Bukan Sekadar Hobi Berlayar

Menariknya, ketertarikan Marden terhadap dunia laut juga bersinggungan dengan isu lingkungan.

Dalam penjelasan John Shuttleworth Design, Adastra sejak awal dikembangkan dengan gagasan mengenai efisiensi energi dan pengurangan konsumsi bahan bakar. Desain kapal disebut sebagai upaya menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan merespons persoalan perubahan iklim.

Marden juga dikenal lebih menyukai perjalanan menuju kawasan terpencil dibandingkan sekadar mendatangi destinasi wisata populer.

Dalam wawancaranya, ia menggambarkan Indonesia dan kawasan Asia sebagai wilayah yang menarik justru karena banyak pulau yang relatif terpencil dan memungkinkan perjalanan laut yang mandiri.

Konteks inilah yang membuat kunjungannya ke Pulau Moa menjadi menarik.

Syota dan Penyu

Syota bukan sekadar pantai bagi masyarakat Pulau Moa. Kawasan pesisir MBD memiliki nilai penting bagi konservasi laut. WWF-Indonesia telah lama melakukan kajian ekologi, sosial dan pemanfaatan sumber daya laut di MBD. Hasil kajian WWF menunjukkan sejumlah pantai di wilayah MBD diketahui menjadi tempat peneluran penyu, sementara perairannya juga menjadi jalur migrasi berbagai mamalia laut.

Dalam perkembangan terbaru, WWF bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan juga melakukan ekspedisi biodiversitas di MBD. KKP menyebut perairan MBD memiliki keanekaragaman hayati laut penting, termasuk penyu, dugong, hiu dan berbagai spesies laut lainnya.

WWF bahkan telah menjalankan berbagai program lingkungan di Pulau Moa, termasuk pengurangan sampah plastik melalui Plastic Free Ocean Network (PFON) dengan melibatkan masyarakat pesisir.

Karena itu, kedatangan seorang pengusaha pelayaran dunia dengan kapal supermewah ke kawasan konservasi seperti Syota menghadirkan sebuah kontras menarik: kapal mewah bertemu dengan pulau kecil yang sedang berjuang mempertahankan ekosistem lautnya.

Di satu sisi terdapat teknologi maritim bernilai jutaan dolar yang dirancang untuk mengarungi samudera. Di sisi lain terdapat masyarakat pesisir dan kelompok konservasi yang bekerja menjaga pantai, penyu dan ekosistem laut dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas.

Bagi Marden, kunjungan ke Moa tampaknya kembali memperlihatkan pola perjalanan yang selama ini melekat pada dirinya: datang ke pulau-pulau kecil, menikmati laut, dan menjelajahi kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kini, jejak perjalanan superyacht Adastra itu sampai ke Pulau Moa—dan dari perairan depan dermaga, perjalanan Marden berlanjut menuju Syota, sebuah kawasan kecil yang menyimpan persoalan besar tentang masa depan penyu dan ekosistem laut MBD. (LN-04)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *