lenteranusantara.co.id, Tiakur — Perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) diperkirakan berlangsung menarik. Dua nama yang mencuat sebagai kandidat Ketua DPD Golkar MBD adalah Johand Mose (John Mose) dan Desianus Orno (Ody Orno).
Musda direncanakan berlangsung di Gedung Serbaguna, Tiakur, Kamis (17/9/2026). Selain menjadi agenda konsolidasi internal partai, pertarungan kedua kandidat mulai dibaca sebagai bagian dari dinamika politik MBD menuju Pilkada 2029.
John Mose saat ini menjabat sebagai Sekretaris DPD Golkar MBD sekaligus Wakil Ketua DPRD MBD. Sementara Ody Orno merupakan mantan birokrat Pemerintah Daerah MBD yang pernah tampil sebagai calon Wakil Bupati MBD.
Dua Poros Dukungan
Dinamika Musda semakin menarik karena kedua kandidat disebut memiliki dukungan dari dua figur penting di tubuh Golkar Maluku.
John Mose disebut mendapat dukungan dari Sekretaris DPD Golkar Maluku, Anos Yermias, yang juga merupakan anggota DPRD Maluku dari daerah pemilihan KKT dan MBD.
Di sisi lain, Ody Orno mendapat dukungan Richard Rahakbauw, anggota DPRD Maluku sekaligus Wakil Ketua DPD Golkar Maluku yang juga Plt. Ketua DPD Golkar MBD.
Konstelasi tersebut membuat Musda Golkar MBD tidak hanya menjadi pertarungan personal dua kandidat, tetapi juga memperlihatkan persaingan pengaruh antarkekuatan di internal Golkar Maluku.
Terlebih, Rahakbauw dan Yermias sebelumnya pernah bersinggungan dalam dinamika pemilihan Sekretaris DPD Golkar Maluku. Karena itu, Musda MBD dapat menjadi ruang pembuktian bagi masing-masing kekuatan untuk menunjukkan pengaruhnya di tingkat daerah.
Keterwakilan Wilayah Menjadi Faktor Penting
Dalam membaca peluang kedua kandidat, persoalan keterwakilan wilayah di MBD menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan.
MBD memiliki karakter geografis dan politik yang sangat beragam, dengan basis-basis kekuatan politik yang tersebar di sejumlah kecamatan dan pulau. Karena itu, kandidat Ketua DPD Golkar MBD tidak cukup hanya mengandalkan popularitas atau dukungan elite di tingkat provinsi.
Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun komunikasi dan konsolidasi dengan struktur partai hingga tingkat kecamatan.
Dalam konteks ini, posisi John Mose sebagai Sekretaris DPD Golkar MBD menjadi modal politik tersendiri. Selama menjalankan tugas sebagai pengurus partai, Mosse dinilai memiliki ruang lebih luas untuk melakukan konsolidasi dengan struktur Golkar di tingkat kecamatan.
Kedekatan tersebut juga diperkuat dengan posisi Anos Yermias yang mewakili dapil KKT-MBD di DPRD Maluku. Secara politik, kombinasi antara penguasaan struktur di tingkat kabupaten dan akses politik di tingkat provinsi dapat menjadi salah satu kekuatan Mose dalam Musda.
Sementara Ody Orno memiliki modal berbeda. Pengalamannya sebagai birokrat Pemda MBD dan pengalaman politik sebagai kandidat Wakil Bupati membuatnya memiliki rekam jejak serta jaringan politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Musda dan Bayang-Bayang Pilkada 2029
Pertarungan Musda Golkar MBD juga menarik jika ditempatkan dalam peta politik menuju Pilkada 2029.
Siapa pun yang memimpin DPD Golkar MBD nantinya akan memiliki posisi strategis dalam menentukan arah konsolidasi partai, komunikasi politik, penjaringan calon, serta kemungkinan koalisi menghadapi Pilkada 2029.
Karena itu, dukungan elite Golkar Maluku terhadap masing-masing kandidat dapat dibaca sebagai bagian dari perebutan pengaruh politik jangka menengah. Namun, terlalu dini jika Musda langsung dianggap sebagai penentuan calon kepala daerah.
Yang lebih realistis, Musda menjadi babak awal perebutan kendali mesin politik Golkar MBD sebelum memasuki tahapan politik yang lebih besar.
Siapa Lebih Kuat?
Jika pertarungan hanya dilihat dari dukungan elite, kedua kandidat memiliki kekuatan masing-masing.
Ody Orno memiliki dukungan Richard Rahakbauw yang berada dalam struktur pimpinan Golkar Maluku. Sementara John Mose memiliki keunggulan dari sisi posisi struktural di DPD Golkar MBD dan konsolidasi yang telah dilakukan selama menjabat sekretaris.
Dalam Musda, persoalan paling menentukan bukan semata-mata siapa yang mendapat dukungan tokoh di tingkat provinsi, tetapi siapa yang mampu mengamankan dukungan pemilik suara di tingkat kecamatan.
Di sinilah pertarungan sesungguhnya akan berlangsung.
Tekad Rahakbauw untuk tidak mengulangi pengalaman kekalahan dalam dinamika politik sebelumnya akan diuji melalui kekuatan dukungan terhadap Orno. Sebaliknya, Mose bersama Yermias akan berupaya mempertahankan keunggulan jaringan yang telah dibangun dengan struktur partai di MBD.
Dengan demikian, Musda Golkar MBD pada 17 September mendatang berpotensi menjadi salah satu barometer awal membaca peta kekuatan politik menuju 2029.
Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang paling kuat di antara Mose dan Orno, tetapi juga kekuatan politik mana yang mampu menguasai struktur Golkar MBD dan membangun basis dukungan lintas wilayah di daerah kepulauan tersebut.
Jawaban atas pertanyaan itu akan ditentukan oleh suara dalam ruang Musda, bukan sekadar dukungan politik yang terlihat di permukaan. (LN-04)










